KATA
PENGANTAR
Segala
Puji dan Syukur Kami Panjatkan kehadirat Tuhan YME, karna atas berkat dan
Rahmat-Nya, Kami bisa menyelesaikan Makalah ini.
Makalah
ini membahas tentang HIPERBILIRUBIN Dalam menyusun Makalah ini,kami mengalami
beberapa kendala, Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada
pihak-pihak yang terlibat dalam menyelesaikan makalah ini.
Semoga
Makalah ini dapat berguna bagi pihak-pihak yang membacanya. Dan di harapkan
kritik dan saran yang membangun,dalam melengkapi makalah ini.Terima Kasih.
Penyusun
Manado, Februari 2013
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
B. Tujuan
BAB II ISI
A. Definisi
B. Eiolog
C. Manifestasi
Klinis
D. Patofisiologi
E. Patoflow
F. Penatalaksanaan
G. Komplikasi
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
B. Analisa
Data
C. Diagnosa
D. Perencanaan
E. Implementasi
F. Catatan
Perkembangan
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikterus terjadi
apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian neonatus,
ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa
angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi
kurang bulan. Di Jakarta dilaporkan 32,19% menderita ikterus. Ikterus ini pada
sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang
menetap atau menyebabkan kematian, karenanya setiap bayi dengan ikterus harus
mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama
kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam.
Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1
minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang
menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut
penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk
ikterus dapat
dihindarkan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapat
gambaran umum tentang asuhan keperawatan pada anak dengan Hiperbilirubin.
2. Tujuan Khusus.
Dengan pembuatan makalah mahasiswa mampu :
v Mengerti dan memahami konsep dasar
hiperbilirubin.
v Melakukan pengkajian pada pasien dengan
hiperbilirubin.
v Menentukan diagnosa keperawatan dan
merumuskan diagnosa prioritas hiperbilirubin.
v Menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan
hiperbilirubin
BAB
II
ISI
A. Definisi
Hiperbilirubin
adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas
nilai normal bilirubin serum.
Hiperilirubin
adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan
sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R. Marlon, 1998)
Hiperbilirubin
adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai
kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai
joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith,
G, 1988).
Hiperbilirubin
adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan
oleh kelainan bawaan, juga dapat menimbulkan ikterus. (Suzanne C. Smeltzer,
2002)
Hiperbilirubinemia
adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. (Markum, 1991:314)
B. Etiologi
Pembentukan
bilirubin yang berlebihan.
Gangguan pengambilan (uptake) dan transportasi
bilirubin dalam hati.
Gangguan konjugasi bilirubin.
Penyakit Hemolitik, yaitu meningkatnya kecepatan
pemecahan sel darah merah. Disebut juga ikterus hemolitik. Hemolisis dapat pula
timbul karena adanya perdarahan tertutup.
Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas
pengangkutan, misalnya Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obatan
tertentu.
Gangguan fungsi
hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat
langsung merusak sel hati dan sel darah merah seperti : infeksi toxoplasma. Siphilis.
C. Manifestasi
Klinis
Kulit berwarna kuning sampe jingga
Pasien tampak lemah
Nafsu makan berkurang
Reflek hisap kurang
Urine pekat
Perut buncit
Pembesaran lien dan hati
Gangguan neurologic
Feses seperti dempul
Kadar
bilirubin total mencapai 29 mg/dl.
Terdapat
ikterus pada sklera, kuku/kulit dan membran mukosa.
o
Jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada bayi
baru lahir, sepsis atau ibu dengan diabetk atau infeksi.
·
Jaundice yang
tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak pada hari ke 3-4 dan menurun
hari ke 5-7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologi.
D. Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian
yang sering ditemukan adalah apabila terdapat beban bilirubin pada sel hepar
yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran
eritrosit, polisitemia.Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan
peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein
berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan
peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar
atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran
empedu.
Pada derajat tertentu bilirubin akan bersifat toksik dan merusak jaringan
tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar
larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya
efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah
otak. Kelainan yang terjadi di otak disebut kernikterus. Pada umumnya dianggap
bahwa kadar bilirubin indirek lebih dari 20mg/dl.Mudah tidaknya kadar bilirubin
melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan
neonatus. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi
terdapat keadaan berat badan lahir rendah, hipoksia, dan hipoglikemia. (Markum, 1991)
F. Komplikasi
Retardasi mental - Kerusakan
neurologis
Gangguan pendengaran dan penglihatan
Kematian.
Kernikterus
G. Penatalaksanaan
a) Tindakan umum
Memeriksa
golongan darah ibu (Rh, ABO) pada waktu hamil
Mencegah
truma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang dapat
menimbulkan ikhterus, infeksi dan dehidrasi.
Pemberian
makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi
baru lahir.
Imunisasi yang cukup baik di tempat
bayi dirawat.
b) Tindakan khusus
Fototerapi
Dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto.
Dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto.
Pemberian
fenobarbital
Mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic dan pernafasan baik pada ibu dan bayi.
Mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic dan pernafasan baik pada ibu dan bayi.
Memberi
substrat yang kurang untuk transportasi/ konjugasi
misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah dikeluarkan dengan transfuse tukar.
misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah dikeluarkan dengan transfuse tukar.
Melakukan
dekomposisi bilirubin dengan fototerapi
untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubin jinak hingga moderat.
untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubin jinak hingga moderat.
Terapi
transfuse
digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi.
digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi.
Terapi
obat-obatan
misalnya obat phenorbarbital/luminal untuk meningkatkan bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct, selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hari.
misalnya obat phenorbarbital/luminal untuk meningkatkan bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct, selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hari.
Menyusui bayi dengan ASI
Terapi sinar matahari
c) Tindak lanjut
Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa.
Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY.S
DENGAN DIAGNOSA HIPERBILIRUBIN
I PENGKAJIAN
A.
Identitas Data
Identitas Bayi :
Nama Klien
: An “E”
Nama
Ayah : Tn.E (42 th)
Umur
: 4
hari
Nama
Ibu : Ny.S (37 th)
Jenis Kelamin :
Laki-laki
Pekerjaan Ayah : PNS/ IRT
Agama/Suku
: kristen
BB
: 2600
kg
Identitas Orang Tua :
Nama Ayah
: Tn.E (42 th)
Nama
Ibu : Ny.S (37 th)
Pekerjaan Ayah : PNS/ IRT
Pekerjaan Ibu :
IRT
Agama
: Kristen
Pendidikan
: Sarjana/SMA
Alamat
: Wanea
B.
Keluhan Utama
Badan bayi
berwarna kuning
C.
Keluhan saat dikaji
Bayi dalam keadaan lemah, klien
muntah, mendapat foto therapy dan tampak kuning diseluruh permukaan tubuh.
D.
Riwayat Perjalanan Penyakit
Bayi lahir dengan Sectio cecaria di
Rumah Bersalin Ibunda, saat lahir bayi langsung menangis, lahir jam 12.40
dengan BBL 2600 gr, PB : 49 cm, LK : 34 cm, ibu bayi dengan APB è placenta previa, datang ke RS lewat
IGD pada tanggal 12-5-05 dan dibawa keruang nicu pada tanggal 12-05-05 jam
17.40 wita dengan keluhan nafas cepat, syanosis, nampak kuning diseluruh
permukaan tubuh.
E.
Riwayat Penyakit Sebelumnya
Karena umur bayi baru 4 hari, maka
tidak ada riwayat penyakit bayi yang pernah di alami sebelumnya.
F.
Riwayat Kehamilan
Usia kehamilan : 47-48
minggu
Anak
ke
: 6 (enam)
Penyakit
ibu : -
Gerakan
janin : dirasakan
Hamil
ke : 6
(enam)
Rencana
KB : setelah bayi lahir ibu disarankan
steril è
ibu setuju
ANC
: posyandu 4x teratur, bidan 2x teratur.
TT : 2x lengkap
TT : 2x lengkap
G.
Riwayat Kehamilan yang lalu
Anak Ke
1 : meninggal sejak lahir
Anak Ke
2 : laki-laki, lahir
spontan dibantu oleh dukun, usia 13 thn.
Anak Ke
3 : laki-laki, lahir
spontan dibantu oleh dukun, usia 10 thn.
Anak Ke
4 : meninggal sejak
lahir.
Anak Ke
5 : laki-laki, lahir
dengan secsio cesaria, usia 3 thn.
Anak Ke
6 : yang ini.
H.
Riwayat Persalinan
Bayi
lahir : 12
Mei 2005 jam 12.40 Wita, dengan Secsio Cesaria,
BBL.
PB,LK : 2600 gr, 49 cm, 34 cm.
I.
Riwayat \Penyakit Keluarga
Keluarga mengatakan bahwa didalam
keluarganya tidak ada anggota keluarga yang sedang sakit, dan juga tidak ada
anggota keluarga yang menderita sakit menular seperti TBC, atau penyakit
menurun seperti DM, Asma.
J.
Riwayat Bio, psiko, sosial, spiritual.
·
Pola respirasi
Klien terlihat nafas cepat, RR
68x/mt, terpadang O2 .
·
Nutrisi
Klien masih dipuasakan, kebutuhan
klein akan nutrisi 310 cc/ 24 jam. Karena BB klien saat dikaji 2300 kg masuk
pada hari ke 4 kelahiran dan dikalikan dengan jumlah cairan yang dibutuhkan dan
ditambah 30 cc dikarenakan klien mendapat foto therapy. NGT terpasang dan
retensi banyak klien juga di spulling.
·
Eliminasi
Saat dikaji klien BAB 3x dan BAK 5x,
warna feces jitam kehijau-hijauan.
·
Aktifitas
Segala kebutuhan klien dipenuhi oleh
ibunya dan perawat ruangan, aktivitas klien berada dalam boks bayi dibawah
sinar foto therapy selama 6 jam dan diistirahatkan selama 2 jam dan dilanjutkan
kembali hingga kadar bilirubinnya turun.
·
Istirahat tidur
Klien dapat tidur dengan
nyenyak,klien sering bangun dan menangis karena popoknya basah akibat BAK dan
BAB serta karena haus.
·
Suhu tubuh
Suhu tubuh bayi pada saat pengkajian
36,7 oC
·
Personal hygiene
Bayi dimandikan dengan diseka 1 kali
sehari dan kebersihan bayi dibantu oleh perawat dan ibu, popok diganti setiap
kali popok basah oleh urin dan feses.
K.
Pemeriksaan Fisik.
a.
Reflek menggenggam : lemah
b.
Refleks
menghisap :
lemah
c.
Kekuatan menangis :
lemah
d. BB
: 2300 kg, LK : 34 cm, LL : 14 cm, PB : 49 cm.
e.
Kepala
: Rambut hitam, bagian depan dicukur, infus terpasang 12
tts/mtè KA EN IB, tidak ada lesi dikulit
kepala.Lingkar kepala
34 cm
f.
Wajah
: warna wajah terlihat kuning, tidak ada lesi pada wajah, kulit
bersih.
g.
Leher
: tidak ada kelainan (pembesaran kelenjar tiroid/distensi vena
jugolaris)
h.
Mata
: mata tertutup verban saat terapy sinar, mata klien semetris tidak
ada lesi pada kedua mata.
i.
Hidung : tidak ada
lesi pada hidung, lubang hidung bersih, terpasang O2
dan NGT.
j.
Mulut
: mukosa bibir lembab, lidah klien berwarna merah keputih
putihan, ada bekas muntah di sudut bibir
klien.
k.
Telinga :
bentuk simetris, tidak ada serumen
l.
Dada :
warna dada terlihat kuning, tidak ada lesi, terdengar DJJ 138/ mnt
m.
Abdomen : tidak kembung, tidak ada
nyeri tekan
n.
Ektermitas : atas bawah tidak ada lesi, kuku
klien pendek, gerak aktif
L.
Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 13-05-2005
Haemoglobin
: 16,6
Lekosit
: 19.000
Eritrosit
: 4,61
Trombosit
: 279.000
Hematokrit
: 48,2
M. Terapi
IVFD : KA-EN 1B 12 tts/mnt
Cefotaxim : 2x 125 mg IV
Spuling dengan NACL
II Analisa Data
NO
|
SYMPTOM
|
ETIOLOGI
|
PROBLEM
|
1.|
|
Ds : -
Do :
-
Warna kulit klien nampak kuning
|
Adanya pemberian foto therapy
|
Resiko tinggi terjadinya injury
|
2.
|
Ds
: -
Do :
-
nampak warna kuning di seluruh pemukaan tubuh
-
S : 36,50C N : 160
x/mnt RR = 48x/mnt
|
Kelebihan bilirubin indirek dalam
tubuh klien yang dapat masuk kedalam jaringan otak
|
Resiko terjadinya kern ikterus
|
III
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko terjadinya kern
ikterus b/d kelebihan bilirubin indirek dalam tubuh klien yang dapat masuk
kedalam jaringan otak.
2. Resiko
terjadinya injury b/d adanya pemberian foto therapy
IV PERENCANAAN
TUJUAN
|
DX
|
RENCANA
TINDAKAN
|
RASIONAL
|
Setelah
dilakukan tindakan selama 24 jam diharapkan resiko tinggi terjadinya kern
ikterus dapat dihindari dicegah dengan kriteria :
→
Kadar Bilirubin berkurang
|
I
|
Ø
Kolaborasi dengan dokter untuk foto therapy,O2, injeksi Cepotaxim 2x
125 mg IV
Ø
Kolaborasi dengan Lab untuk memeriksa bilirubin setiap 8 jam minimal setiap
24 jam
Ø
Beri minum yang banyak
|
Ø
Merupakan indikator untuk menilai jumlah bilirubin klien serta waktu yang
diperlukan dalam terapy klien
Ø
Untuk menilai apakah kadar bilirubin klien melebihi normal atau kurang dari
normal
Ø
Agar dehidrasi tidak terjadi dan Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien karena
klien berada dibawah terapi sinar
|
Setelah
dilakukan tindakan selama 24 jam diharapkan resiko tinggi injury dapat
dicegah dengan kriteria :
Ø
Pencahayaan cukup sesuai dengan kebutuhan
Ø
Kadar bilirubin berkurang
Ø
Tubuh klien tidak berwarna kuning lagi
|
II
|
Ø
Observasi Vital sign
Ø
Observsi pemberian cahaya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klien
Ø
Observasi keadaan umum klien setelah therapy
Ø
Cek intake dan output selama penyinaran
|
Ø
Melihat sejauhmana perkembangan klien
Ø
Dengan mengobservasi pemberian cahaya sesuai dengan kebutuhan dapat
mengetahui dan menilai penurunan kadar bilirubin serta sejauhmana klien
mengalami injury.
Ø
Untuk mengetahui tingkat perkembangan klien dan sejauhmana terjadinya
dehidrasi
Ø
Menilai apakah jimlah cairan yang masuk sesuai dengan instruksi dokter
|
V
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
DX
|
IMPLEMENTASI
|
RESPON
HASIL
|
I
|
Ø
Memonitor warna kulit bayi
Ø
Melakukan tindakan kolaborasi dengan dokter untuk foto therapy
Ø
Memberikan injeksi cefotaxim 125 mg IV
Ø
Mengobservasi vital sign
Ø
Mengoservasi kondisi kulit dan mata klien
Ø
Menimbang BB
Ø
Mengobservasi keadaan umum bayi
Ø
Mengobservasi intake dan output
Ø
Mengobservasi penutup mata dan popok klien
|
Ø
Kulit bayi masih tampak kuning
Ø
Foto therapy terpasang jam 11.00 dan berakhir jam 17.00, bayi tampak menangis
Ø
Klien mendapat injeksi cefotaxim
Ø
Suhu 36,4 C, RR : 68 x/mnt, DJJ : 136x/ mnt.
Ø
Kulit baik mata tertutup dengan baik pula
Ø
BB 2300 gr
Ø
Keadaan umum masi lemah
Ø
Bayi masi puasa NGT terpasang infuse KA EN IB 12 tts/mnt retensi banyak
Ø
Mata tertutup rapat dengan kain kasa dan dilapisi dengan karbon begitu pula
dengan popoknya tertutup dengan baik
|
II
|
Ø
Memonitor warna kulit bayi
Ø
Melakukan tindakan kolaborasi dengan dokter untuk foto therapy
Ø
Memberikan injeksi cefotaxim 125 mg IV
Ø
Mengobservasi vital sign
Ø
Mengoservasi kondisi kulit dan mata klien
Ø
Menimbang BB
Ø
Mengobservasi keadaan umum bayi
Ø
Memberi minum bayi
Ø
Memberi minum bayi
Ø
Mengobservasi penutup mata dan popok bayi
Ø
Memberi minum bayi
|
Ø
Kulit bayi masih tampak kuning
Ø
Foto therapy terpasang jam 11.00 dan berakhir jam 17.00, bayi tampak menangis
Ø
Klien mendapat injeksi cefotaxim
Ø
Suhu 36,5 C, RR : 40 x/mnt, DJJ : 144x/ mnt.
Ø
Kulit baik masih tampak kuning, mata tertutup dengan baik saat foto therapy
Ø
BB 2260 kg
Ø
Keadaan umum lesu, tangis kuat
Ø
Bayi minum pasi 10 cc
Ø
Bayi minum pasi 10 cc
Ø
Mata tertutup kain kasa dilapisi dengan karbon begitu juga dengan popoknya
tertutup dengan baik
Ø
Bayi minum pasi 10 cc
|
VI
CATATAN PERKEMBANGAN
DX
|
CATATAN
PERKEMBANGAN
|
I
|
S
: -
O
:
Ø Kadar bilirubin 11,4
Ø Klien masih nampak kuning
A
: Resiko tinggi kern ikterus dapat dicegah
P
: Intervensi dilanjutkan
|
II
|
S
: -
O
:
Ø kulit klien masih nampak kuning
Ø pencahayaan cukup sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi, klien yaitu selama 6 jam dan disitirahatkan
selama 2 jam
A
: Resiko tinggi injury dapat dicegah
P
: Intervensi dilanjutkan
|
BAB IV
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hiperbilirubin adalah
suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga
menimbulkan joundice pada neonatusHiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi
akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan
efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata, kulit,
membrane mukosa dan cairan tubuh Untuk mendapat pengertian yang cukup mengenai masalah
ikterus pada neonatus, perlu diketahui sedikit tentang metabolisme bilirubin
pada neonatus.
B. Saran
Berdasarkan perumusan dan hambatan yang dijumpai selama melakukan
asuhan keperawatan kami mengemukakan beberapa saran untuk dapat dijadikan bahan
pertimbangan yang mungkin dapat berguna bagi usaha peningkatan mutu pelayanan
keperawatan di masa mendatang, saran yang dapat kami kemukakan adalah sebagai
berikut :
1. Perawat dan keluarga dapat bekerja sama dalam pemenuhan
kebutuhan sehari-hari.
2. Mahasiswa untuk lebih memahami konsep-konsep asuhan
keperawatan pada pasien Hiperbilirubin
3.Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh mahasiswa dan dapat diterapkan dalam dunia keperawatan
DAFTAR
PUSTAKA
·
http://mydocumentku.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-pada-pasien-hemaptoe.html
No comments:
Post a Comment