kes131

SELAMAT DATANG DI MAS NEKO

Monday, 13 July 2015

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY.S DENGAN DIAGNOSA HIPERBILIRUBIN


KATA PENGANTAR
Segala Puji dan Syukur Kami Panjatkan kehadirat Tuhan YME, karna atas berkat dan Rahmat-Nya, Kami bisa menyelesaikan Makalah ini.
Makalah ini membahas tentang HIPERBILIRUBIN  Dalam menyusun Makalah ini,kami mengalami beberapa kendala, Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam menyelesaikan makalah ini.
Semoga Makalah ini dapat berguna bagi pihak-pihak yang membacanya. Dan di harapkan kritik dan saran yang membangun,dalam melengkapi makalah ini.Terima Kasih.










Penyusun



Manado,  Februari 2013







DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Tujuan
BAB II ISI
A.    Definisi
B.     Eiolog
C.     Manifestasi Klinis
D.    Patofisiologi
E.     Patoflow
F.      Penatalaksanaan
G.    Komplikasi
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
B.     Analisa Data
C.     Diagnosa
D.    Perencanaan
E.     Implementasi
F.      Catatan Perkembangan
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan. Di Jakarta dilaporkan 32,19% menderita ikterus. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian, karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat
dihindarkan.

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Untuk mendapat gambaran umum tentang asuhan keperawatan pada anak dengan Hiperbilirubin.
2.      Tujuan Khusus.
Dengan pembuatan makalah mahasiswa mampu :
v  Mengerti dan memahami konsep dasar hiperbilirubin.
v  Melakukan pengkajian pada pasien dengan hiperbilirubin.
v  Menentukan diagnosa keperawatan dan merumuskan diagnosa prioritas hiperbilirubin.
v  Menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan hiperbilirubin

BAB II
ISI
A.    Definisi
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum.
Hiperilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R. Marlon, 1998)
Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith, G, 1988).
Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan, juga dapat menimbulkan ikterus. (Suzanne C. Smeltzer, 2002)
Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. (Markum, 1991:314)

B.     Etiologi
 Pembentukan bilirubin yang berlebihan.
 Gangguan pengambilan (uptake) dan transportasi bilirubin dalam hati.
 Gangguan konjugasi bilirubin.
 Penyakit Hemolitik, yaitu meningkatnya kecepatan pemecahan sel darah merah. Disebut juga ikterus hemolitik. Hemolisis dapat pula timbul karena adanya perdarahan tertutup.
 Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan, misalnya Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obatan tertentu.
Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan sel darah merah seperti : infeksi toxoplasma. Siphilis.

C.     Manifestasi Klinis
 Kulit berwarna kuning sampe jingga
 Pasien tampak lemah
Nafsu makan berkurang
 Reflek hisap kurang
 Urine pekat
 Perut buncit
 Pembesaran lien dan hati
 Gangguan neurologic
 Feses seperti dempul
 Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl.
 Terdapat ikterus pada sklera, kuku/kulit dan membran mukosa.
o   Jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, sepsis atau ibu dengan diabetk atau infeksi.
·         Jaundice yang tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak pada hari ke 3-4 dan menurun hari ke 5-7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologi.
                
D.    Patofisiologi
      Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia.Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
      Pada derajat tertentu bilirubin akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi di otak disebut kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kadar bilirubin indirek lebih dari 20mg/dl.Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan berat badan lahir rendah, hipoksia, dan hipoglikemia. (Markum, 1991)







































































F.      Komplikasi
  Retardasi mental - Kerusakan neurologis
  Gangguan pendengaran dan penglihatan
  Kematian.
  Kernikterus


G.    Penatalaksanaan
a) Tindakan umum
 Memeriksa golongan darah ibu (Rh, ABO) pada waktu hamil
 Mencegah truma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikhterus, infeksi dan dehidrasi.
 Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir.
 Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat.

b) Tindakan khusus
 Fototerapi
Dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto.
 Pemberian fenobarbital
Mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic dan pernafasan baik pada ibu dan bayi.
 Memberi substrat yang kurang untuk transportasi/ konjugasi
misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah dikeluarkan dengan transfuse tukar.
 Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi
untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubin jinak hingga moderat.
 Terapi transfuse
digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi.
 Terapi obat-obatan
misalnya obat phenorbarbital/luminal untuk meningkatkan bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct, selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hari.
 Menyusui bayi dengan ASI
 Terapi sinar matahari

c) Tindak lanjut
Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa.















ASUHAN KEPERAWATAN  PADA BAYI NY.S DENGAN DIAGNOSA HIPERBILIRUBIN
I   PENGKAJIAN
A.          Identitas Data
Identitas Bayi :                                     
Nama Klien      : An “E”                    
Nama Ayah      :  Tn.E (42 th)
Umur                :  4 hari                         
Nama Ibu         :  Ny.S (37 th)
Jenis Kelamin   :  Laki-laki                   
 Pekerjaan Ayah  :  PNS/ IRT
Agama/Suku     :  kristen               
BB                    :  2600 kg                     

Identitas Orang Tua  :
       Nama Ayah      :  Tn.E (42 th)
Nama Ibu         :  Ny.S (37 th)
 Pekerjaan Ayah  :  PNS/ IRT
Pekerjaan Ibu   :  IRT
Agama             :  Kristen
Pendidikan       :  Sarjana/SMA
       Alamat             : Wanea

B.      Keluhan Utama
Badan bayi berwarna kuning

C.     Keluhan saat dikaji
Bayi dalam keadaan lemah, klien muntah, mendapat foto therapy dan tampak kuning diseluruh permukaan tubuh.





D.     Riwayat Perjalanan Penyakit
Bayi lahir dengan Sectio cecaria di Rumah Bersalin Ibunda, saat lahir bayi langsung menangis, lahir jam 12.40 dengan BBL 2600 gr, PB : 49 cm, LK : 34 cm, ibu bayi dengan APB è placenta previa, datang ke RS lewat IGD pada tanggal 12-5-05 dan dibawa keruang nicu pada tanggal 12-05-05 jam 17.40 wita dengan keluhan nafas cepat, syanosis, nampak kuning diseluruh permukaan tubuh.

E.      Riwayat Penyakit Sebelumnya
Karena umur bayi baru 4 hari, maka tidak ada riwayat penyakit bayi yang pernah di alami sebelumnya.

F.      Riwayat  Kehamilan
Usia kehamilan   : 47-48 minggu
Anak ke              : 6 (enam)
Penyakit ibu       : -
Gerakan janin     : dirasakan
Hamil ke             : 6 (enam)
Rencana KB       : setelah bayi lahir ibu disarankan steril è ibu setuju
ANC                  : posyandu 4x teratur, bidan 2x teratur.
TT                       : 2x lengkap

G.     Riwayat Kehamilan yang lalu
Anak Ke 1          : meninggal sejak lahir
Anak Ke 2          : laki-laki, lahir spontan dibantu oleh dukun, usia 13 thn.
Anak Ke 3          : laki-laki, lahir spontan dibantu oleh dukun, usia 10 thn.
Anak Ke 4          : meninggal sejak lahir.
Anak Ke 5          : laki-laki, lahir dengan secsio cesaria, usia 3 thn.
Anak Ke 6          : yang ini.

H.     Riwayat Persalinan
Bayi lahir            : 12 Mei 2005 jam 12.40 Wita, dengan Secsio Cesaria,
BBL. PB,LK      : 2600 gr, 49 cm, 34 cm.



I.        Riwayat \Penyakit Keluarga
Keluarga mengatakan bahwa didalam keluarganya tidak ada anggota keluarga yang sedang sakit, dan juga tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit menular seperti TBC, atau penyakit menurun seperti DM, Asma.

J.       Riwayat Bio, psiko, sosial, spiritual.
·         Pola respirasi
Klien terlihat nafas cepat, RR 68x/mt, terpadang O2 .
·         Nutrisi
Klien masih dipuasakan, kebutuhan klein akan nutrisi 310 cc/ 24 jam. Karena BB klien saat dikaji 2300 kg masuk pada hari ke 4 kelahiran dan dikalikan dengan jumlah cairan yang dibutuhkan dan ditambah 30 cc dikarenakan klien mendapat foto therapy. NGT terpasang dan retensi banyak klien juga di spulling.
·         Eliminasi
Saat dikaji klien BAB 3x dan BAK 5x, warna feces jitam kehijau-hijauan.
·         Aktifitas
Segala kebutuhan klien dipenuhi oleh ibunya dan perawat ruangan, aktivitas klien berada dalam boks bayi dibawah sinar foto therapy selama 6 jam dan diistirahatkan selama 2 jam dan dilanjutkan kembali hingga kadar bilirubinnya turun.
·         Istirahat tidur
Klien dapat tidur dengan nyenyak,klien sering bangun dan menangis karena popoknya basah akibat BAK dan BAB serta karena haus.
·         Suhu tubuh
Suhu tubuh bayi pada saat pengkajian 36,7 oC
·         Personal hygiene
Bayi dimandikan dengan diseka 1 kali sehari dan kebersihan bayi dibantu oleh perawat dan ibu, popok diganti setiap kali popok basah oleh urin dan feses.

K.     Pemeriksaan Fisik.
a.       Reflek menggenggam       : lemah
b.      Refleks menghisap            : lemah
c.       Kekuatan menangis           : lemah
d.      BB : 2300 kg, LK : 34 cm, LL : 14 cm, PB : 49 cm.
 e.       Kepala             : Rambut hitam, bagian depan dicukur, infus terpasang 12
                                       tts/mtè KA EN IB, tidak ada lesi dikulit kepala.Lingkar kepala
                                      34 cm
 f.       Wajah              : warna wajah terlihat kuning, tidak ada lesi pada wajah, kulit
                                      bersih.
 g.      Leher               : tidak ada kelainan (pembesaran kelenjar tiroid/distensi vena
                                      jugolaris)
 h.      Mata                : mata tertutup verban saat terapy sinar, mata klien semetris tidak
                                     ada lesi pada kedua mata.
 i.        Hidung            : tidak ada lesi pada hidung, lubang hidung bersih, terpasang O2
                                      dan NGT.
 j.        Mulut              : mukosa bibir lembab, lidah klien berwarna merah keputih
                                      putihan, ada bekas muntah di sudut bibir klien.
 k.      Telinga            : bentuk simetris, tidak ada serumen
 l.        Dada              : warna dada terlihat kuning, tidak ada lesi, terdengar DJJ 138/ mnt
 m.    Abdomen        : tidak kembung, tidak ada nyeri tekan
 n.      Ektermitas       : atas bawah tidak ada lesi, kuku klien pendek, gerak aktif

L.      Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 13-05-2005
Haemoglobin         :  16,6
Lekosit                  : 19.000
Eritrosit                 :  4,61
Trombosit              :  279.000
Hematokrit            :  48,2
M.    Terapi
IVFD : KA-EN 1B 12 tts/mnt
Cefotaxim : 2x 125 mg IV
Spuling dengan NACL


II    Analisa Data
NO
SYMPTOM
ETIOLOGI
PROBLEM
1.|
Ds : -
Do :
-           Warna kulit klien nampak kuning
Adanya pemberian foto therapy
Resiko tinggi terjadinya injury
2.
Ds :       -
Do :     
-           nampak warna kuning di seluruh pemukaan tubuh
-                   S : 36,50C N : 160 x/mnt RR = 48x/mnt
Kelebihan bilirubin indirek dalam tubuh klien yang dapat masuk kedalam jaringan otak
Resiko terjadinya kern ikterus


III      DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Resiko terjadinya kern ikterus b/d kelebihan bilirubin indirek dalam tubuh klien yang dapat masuk kedalam jaringan otak.
2.      Resiko terjadinya injury b/d adanya pemberian foto therapy

      IV     PERENCANAAN
TUJUAN
DX
RENCANA TINDAKAN
RASIONAL
Setelah dilakukan tindakan selama 24 jam diharapkan resiko tinggi terjadinya kern ikterus dapat dihindari dicegah dengan kriteria :
→ Kadar Bilirubin berkurang

I
Ø  Kolaborasi dengan dokter untuk foto therapy,O2, injeksi Cepotaxim 2x 125 mg IV
Ø Kolaborasi dengan Lab untuk memeriksa bilirubin setiap 8 jam minimal setiap 24 jam
Ø Beri minum yang banyak

Ø Merupakan indikator untuk menilai jumlah bilirubin klien serta waktu yang diperlukan dalam terapy klien
Ø Untuk menilai apakah kadar bilirubin klien melebihi normal atau kurang dari normal
Ø Agar dehidrasi tidak terjadi dan Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien karena klien berada dibawah terapi sinar

Setelah dilakukan tindakan selama 24 jam diharapkan resiko tinggi injury dapat dicegah dengan kriteria :
Ø  Pencahayaan cukup sesuai dengan kebutuhan
Ø  Kadar bilirubin berkurang
Ø  Tubuh klien tidak berwarna kuning lagi

II
Ø Observasi Vital sign
Ø Observsi pemberian cahaya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klien
Ø Observasi keadaan umum klien setelah therapy
Ø Cek intake dan output selama penyinaran

Ø Melihat sejauhmana perkembangan klien
Ø Dengan mengobservasi pemberian cahaya sesuai dengan kebutuhan dapat mengetahui dan menilai penurunan kadar bilirubin serta sejauhmana klien mengalami injury.
Ø Untuk mengetahui tingkat perkembangan klien dan sejauhmana terjadinya dehidrasi
Ø Menilai apakah jimlah cairan yang masuk sesuai dengan instruksi dokter

                                                                                 



V    IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
DX
IMPLEMENTASI
RESPON HASIL
I
Ø  Memonitor warna kulit bayi
Ø  Melakukan tindakan kolaborasi dengan dokter untuk foto therapy
Ø  Memberikan injeksi cefotaxim 125 mg IV
Ø  Mengobservasi vital sign
Ø  Mengoservasi kondisi kulit dan mata klien
Ø  Menimbang BB
Ø  Mengobservasi keadaan umum bayi
Ø  Mengobservasi intake dan output
Ø  Mengobservasi penutup mata dan popok klien

Ø  Kulit bayi masih tampak kuning
Ø  Foto therapy terpasang jam 11.00 dan berakhir jam 17.00, bayi tampak menangis
Ø  Klien mendapat injeksi cefotaxim
Ø  Suhu 36,4  C, RR : 68 x/mnt, DJJ : 136x/ mnt.
Ø  Kulit baik mata tertutup dengan baik pula
Ø  BB 2300 gr
Ø  Keadaan umum masi lemah
Ø  Bayi masi puasa NGT terpasang infuse KA EN IB 12 tts/mnt retensi banyak
Ø  Mata tertutup rapat dengan kain kasa dan dilapisi dengan karbon begitu pula dengan popoknya tertutup dengan baik

II
Ø  Memonitor warna kulit bayi
Ø  Melakukan tindakan kolaborasi dengan dokter untuk foto therapy
Ø  Memberikan injeksi cefotaxim 125 mg IV
Ø  Mengobservasi vital sign
Ø  Mengoservasi kondisi kulit dan mata klien
Ø  Menimbang BB
Ø  Mengobservasi keadaan umum bayi
Ø  Memberi minum bayi
Ø  Memberi minum bayi
Ø  Mengobservasi penutup mata dan popok bayi
Ø  Memberi minum bayi
Ø  Kulit bayi masih tampak kuning
Ø  Foto therapy terpasang jam 11.00 dan berakhir jam 17.00, bayi tampak menangis
Ø  Klien mendapat injeksi cefotaxim
Ø  Suhu 36,5 C, RR : 40 x/mnt, DJJ : 144x/ mnt.
Ø  Kulit baik masih tampak kuning, mata tertutup dengan baik saat foto therapy
Ø  BB 2260 kg
Ø  Keadaan umum lesu, tangis kuat
Ø  Bayi minum pasi 10 cc
Ø  Bayi minum pasi 10 cc
Ø  Mata tertutup kain kasa dilapisi dengan karbon begitu juga dengan popoknya tertutup dengan baik
Ø  Bayi minum pasi 10 cc








VI    CATATAN PERKEMBANGAN
DX
CATATAN PERKEMBANGAN
I
S : -
O :
     Ø  Kadar bilirubin 11,4
     Ø  Klien masih nampak kuning
A  :      Resiko tinggi kern ikterus dapat dicegah
P   : Intervensi dilanjutkan

II
S : -
O :
    Ø  kulit klien masih nampak kuning
    Ø  pencahayaan cukup sesuai dengan kebutuhan dan kondisi,  klien yaitu selama 6 jam dan disitirahatkan selama 2 jam
A  :      Resiko tinggi injury dapat dicegah
P   : Intervensi dilanjutkan







BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatusHiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh   Untuk mendapat pengertian yang cukup mengenai masalah ikterus pada neonatus, perlu diketahui sedikit tentang metabolisme bilirubin pada neonatus.

B.     Saran
Berdasarkan perumusan dan hambatan yang dijumpai selama melakukan asuhan keperawatan kami mengemukakan beberapa saran untuk dapat dijadikan bahan pertimbangan yang mungkin dapat berguna bagi usaha peningkatan mutu pelayanan keperawatan di masa mendatang, saran yang dapat kami kemukakan adalah sebagai berikut :
1. Perawat dan keluarga dapat bekerja sama dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
2. Mahasiswa untuk lebih memahami konsep-konsep asuhan keperawatan pada pasien Hiperbilirubin
 3.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh mahasiswa dan   dapat diterapkan dalam dunia keperawatan







DAFTAR PUSTAKA

·         ml.scribd.com/doc/.../Hi-Per-Bilirubin-Emi-A - Translate this page
·         http://mydocumentku.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-pada-pasien-hemaptoe.html





No comments:

Post a Comment