kes131

SELAMAT DATANG DI MAS NEKO

Saturday, 28 November 2015

Barbershop, dari Pinggir Jalan Hijrah ke Mal

Konsep unik diusung beberapa barbershop untuk menjaring pelanggan
Tampil trendi kini sudah bukan dominasi kaum hawa lagi, kaum adam pun tak mau ketinggalan, terutama pria-pria metroseksual. Mereka umumnya menaruh perhatian lebih terhadap penampilan. Tak hanya peka fesyen, gaya rambut pun selalu mengikuti kekinian. Entah itu model Mohawk, Goza, undercut, atau klasik yang tak lekang oleh waktu.

Tak heran jika barbershop pun 'hijrah' ke pusat-pusat perbelanjaan. Mereka membidik pasar yang lebih luas, tidak lagi konsumen 'pinggir jalan'.

Tren barbershop masuk mal ini sebetulnya sudah terjadi sejak setahun lalu. Di pusat perbelanjaan barbershop-barbershop ini mudah dikenali. Biasanya di dekat pintu masuk akan dipasang ciri khasnya, lampu tiga warna: putih, merah, biru. Lampu ini disebut barber pole karena kerap berputar.

Barber pole tiga warna ini memiliki arti khusus. Ini merujuk pada sejarahnya dahulu, di mana barbershop identik dengan klinik, sehingga warna-warna itu pun memiliki arti yang bersinggungan dengan ilmu kedokteran, yakni perban untuk putih, merah untuk darah, dan biru yang diartikan sebagai pembuluh vena.

Tetapi kini barbershop tentu saja berbeda jauh. Tak ada lagi alat-alat medis dan bau obat menyengat, yang ada kursi berjejer yang ditata apik dan semburat wangi pomade. Tak seperti salon-salon yang terkesan feminin, nuansa barbershop sebaliknya, mengumbar aura maskulin.

Zikra L Anwar, pemilik Batavia Barbershop kepada VIVA.co.id, menuturkan, pihaknya memang membidik pria-pria trendi yang sadar akan penampilan, namun enggan menginjakkan kaki ke salon karena malas mengikuti ritualnya. Menurut dia, layanan barbershop memang lebih singkat dibandingkan salon. Sebab kaum adam ini memang tidak menyukai ritual lama yang biasanya diterapkan di salon. Pria menyukai hal yang sederhana, rapi dan bagus. Sejatinya, pria cenderung tidak nyaman saat harus berada di salon dan berada di antara wanita.

Sama halnya dengan Zikra, Bayu Aryo Susanto, pemilik PAXI Barbershop, mengakui bahwa seiring dengan perkembangan, pria kini lebih bergaya. Namun tak seperti kaum hawa yang memiliki loyalitas tinggi terhadap salon untuk merawat tubuhnya, pria tidak begitu.

Pria lebih easy going, mereka bisa cukur dimana pun dan kapan pun mereka inginkan. Maka disinilah tantangan bagi para pemilik barbershop untuk bisa bertahan dalam industri yang semakin ketat persaingannya ini.

Beberapa barbershop menawarkan konsep unik yang membuat pelanggan senang berada di sana. Beberapa lagi memilih tetap mempertahankan keaslian sebuah barber. Pilihan tentu saja di tangan konsumen.

Pax Wijaya misalnya. Siapa orang di Jakarta yang tidak mengenal barbershop yang bisa disebut sebagai 'nenek moyangnya' barbershop di ibukota itu. Berganti pemilik sebanyak tiga kali, Pax Wijaya telah berdiri sejak tahun 1958. Sempat mengalami masa kejayaan, kini kehadiran barbershop yang semakin banyak mau tak mau mempengaruhi usaha Pax Wijaya. Jika di tahun 1958 hingga 1990, sehari mereka bisa melayani hingga 600 orang. Kini rata-rata per hari sekitar 20 orang.

"Orang lebih senang mencari yang dekat dan terjangkau, kan sekarang banyak juga di mal," kata senior barber di Pax Wijaya, M Nisman. Nisman sendiri telah bekerja di Pax Wijaya sejak 1965.

No comments:

Post a Comment